Maraknya Buku Panduan Belanja
November 30, 2007 on 6:39 pm | In Berita |Buku-buku panduan belanja mulai bertebaran. Ada Buku Belanja 2003, Shopper’s Guide, The Biz Map dan Ayo ke Bandung, Info Lengkap Bandung Euy.
Sailendra dan Pearl adalah dua restoran yang belakangan ini populer. Mantan Menteri Negara BUMN Rozy Munir tengah makan di Restoran Sailendra saat bom dari depan lobi Hotel JW Marriott, Jakarta, memorakporandakan jamuan makan siang itu. Begitu pula mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Miranda Goeltom berencana menghadiri undangan di Sailendra. Sementara itu, Duta Besar Libanon untuk Indonesia, Taufik Jaber, baru saja masuk ke Restoran Pearl di lantai dua ketika bom meledak dan membuat ia lari menuruni anak tangga untuk menyelamatkan diri.
Tanpa peristiwa menggetirkan itu barangkali kita tak pernah tahu bahwa di hotel itu ada restoran yang menjadi favorit tempat berkumpulnya politikus, diplomat, orang asing dan pebisnis. Apa sih istimewanya dua restoran itu sehingga hampir tiap makan siang selalu penuh pengunjung? Tanpa perlu bertanya pada mereka yang rajin kongkow di restoran itu kita bisa tahu bagaimana menu istimewa restoran tersebut, suasana yang ditawarkan, dan kualitas layanannya.
Tengoklah buku Jakarta Good Food Guide karya Laksmi Pamuntjak yang sudah terbit dua edisi. Lewat buku itu kita akan tahu menu khusus di dua restoran itu dan bagaimana rekomendasi sang penulis. Pearl, misalnya, punya suguhan dim sum dalam 32 jenis dan menyediakan hidangan khas Cina.
Bagaimana layanan restoran ini? Buku Belanja 2003 yang diterbitkan majalah a+ menyebut lebih detail. Pearl adalah sedikit restoran di Jakarta yang mendandani pelayannya dengan rancangan busana desainer ternama. Seragam cheong sam seksi dengan belahan rok tinggi dari pelayan perempuannya didesain oleh Chossy Latu. Lalu soal hidangan Cina itu, restoran ini juga menyediakan wine produksi Cina, Shao Shing Hua Tiao (red wine) seharga Rp 150 ribu per botol dan Dynasty (white wine) seharga Rp 390 ribu per botol.
Informasi lengkap soal berbagai restoran, juga tempat-tempat belanja di Jakarta itu kini bisa dengan mudah didapatkan. Buku-buku panduan tersebut bertebaran di toko-toko buku. Untuk informasi restoran selain dua buku itu juga ada buku Jakarta-Java Dining. Untuk informasi belanja lebih luas, selain Buku Belanja 2003, ada juga Shopper’s Guide dan The Biz Map.
Jika tiga buku itu mengkhususkan diri untuk Jakarta, buku terbaru berjudul Ayo ke Bandung, Info Lengkap Bandung Euy terbitan NexxMedia Inc. memberi penekanan informasi pada kota Bandung semata. Ada informasi tempat belanja, lokasi restoran, dan info menu andalan, berikut peta kota. Buku ini digarap dengan desain yang menarik dan dilengkapi karikatur.
Apa tujuan penerbitan buku panduan belanja itu? Buku Ayo ke Bandung menyebutkan bahwa dalam beberapa tahun ini kota Bandung dicanangkan sebagai Kota Belanja. “Belakangan Bandung meledak karena maraknya pertumbuhan factory outlet, tempat penjualan baju-baju bermerek dengan harga miring. Pertumbuhan factory outlet itu sebenarnya cuma kisah lanjutan dari kisah Bandung sebagai surga pemuja tekstil sejak 1970-an,” demikian kata pengantar buku ini.
Nah, buku dengan project director A. Jacken T. dan dijual dengan harga Rp 25 ribu itu dibuat “untuk memandu Anda selama berwisata di Bandung, entah itu belanja atau mencicipi aneka jajanan”.
Semangat memandu itu juga dikemukakan Ni Luh Sekar, editor in chief majalah a+, penerbitan yang mengeluarkan Buku Belanja 2003 yang menyuguhkan sekitar 300 direktori belanja itu. “Buku panduan ini diterbitkan setiap enam bulan sekali. Ini bagian dari memberi servis ke pembaca di mana mereka harus belanja,” kata Sekar.
Buku yang dicetak 20 ribu eksemplar dan ludes dalam dua bulan itu tak cuma memberi informasi dasar tempat belanja, seperti produk dan alamat toko itu, tapi juga memberi tinjauan dan instruksi pada pembaca. “Dalam review, buku ini memberi alasan kenapa toko itu beda dengan toko sebelah. Dalam instruksi diberikan informasi bagaimana cara pergi ke sana atau, misalnya, jangan coba-coba ke tempat belanja di Kemang kalau cuma punya waktu setengah jam untuk belanja,” tuturnya.
Buku dengan harga kurang dari Rp 20 ribu dengan 115 halaman itu dibagi dalam tiga kategori gaya, karya, dan rasa. Untuk gaya, bagi Anda yang ingin membeli koleksi rancangan Urban Crew di studionya, misalnya, Anda diberi informasi bahwa studio ini hanya menerima uang tunai alias tak menerima kartu kredit. Harga koleksi mereka di studio maupun di outlet mereka Rp 50 ribu sampai Rp 1,5 juta. Untuk yang melakukan order khusus, pembaca juga diberi informasi bahwa mereka harus membuat janji ketemu, mengikuti konsultasi desain, membayar biaya konsultasi, biaya produksi, kemudian baru akan dilanjutkan dengan tahap pembuatan baju.
Untuk rasa, Anda yang menyukai kopi Starbucks dan ingin nongkrong di sana mendapat informasi bahwa dalam area Starbucks bebas rokok. Ini demi melindungi kesegaran dan aroma biji kopi mereka.
Untuk karya, bagi Anda yang menyukai musik dan ingin mendatangi Duta Suara, buku ini memberi informasi bahwa toko musik yang berdiri sejak 1970 itu hanya sesekali mendapat keluhan dari pembelinya bahwa CD yang diinginkannya tak ada di rak. Dengan kata lain, toko ini tahu selera konsumen musik di Jakarta. Tapi untuk VCD, koleksi toko ini sudah banyak yang kedaluwarsa. “Kelebihan atau kelemahan toko itu kami tulis apa adanya. Kalau pelayannya malas-malasan, misalnya, ya kami tulis malas-malasan,” ungkap Ni Luh Sekar.
Buku Belanja 2003 dikerjakan oleh enam orang dalam waktu empat bulan. Mereka melakukan survei dan kemudian mengirim surat pada gerai-gerai itu. Setelah itu, dilakukan pendataan di lapangan dan melakukan cek silang secara random menjelang buku diterbitkan. Setelah itu buku diterbitkan dan dipasarkan melalui toko buku Gramedia, QB, Aksara, Kinokuniya, butik, dan salon.
Jika untuk Jakarta dan Bandung telah terbit buku belanja, informasi belanja di Yogyakarta lebih banyak didapatkan melalui penerbitan majalah dan tabloid. Mall dan Jogja Ad adalah dua media yang mengkhususkan diri pada informasi seputar dunia usaha. Kedua media itu dibagikan gratis. “Yogya adalah salah satu pusat produk kerajinan di Indonesia, namun belum ada media khusus yang menginformasikannya. Itu sebabnya kami kemudian menerbitkan Jogja Ad sebagai jembatan antara produsen dengan buyer,” kata Lian Esdiarwan, pengelola Jogja Ad.
Pangsa yang dibidik Jojga Ad adalah kalangan bisnis kerajinan, khususnya dari mancanegara. Itu sebabnya Jojga Ad sengaja memilih bahasa Inggris. heru cn/yot
Belum Rapinya Indeks
Penampilan buku Ayo ke Bandung, Info Lengkap Bandung Euy menarik. Buku yang dimaksudkan bisa menjadi buku saku itu full color dan dilengkapi dengan gambar-gambar kartun serta peta. Gambar kartun dan peta itu mengisi hampir setiap halaman buku. Desain tata letaknya juga menarik.
Untuk peta, pada bagian tengah buku disisipi peta “Ayo ke Bandung” sebesar poster. Informasi wilayah mulai Lembang, Setiabudhi, Sukajadi, Viaduct, Dago, Asia Afrika, Buah Batu, hingga Soekarno-Hatta tergambar jelas. Semua ada 23 daerah. Pada tiap-tiap daerah itu kemudian dilengkapi dengan kawasan-kawasan belanja, hotel, kehidupan malam, stasiun radio, hingga tempat-tempat makan. Praktis informasi yang diinginkan tim pembuat sudah masuk.
Tapi sebagai sebuah panduan, apalagi bagi orang baru yang ingin berwisata ke kota itu, buku ini tak cukup memberi tuntunan yang memadai. Taruhlah orang yang belum pernah datang ke Bandung itu ingin mencicipi yogurt restoran BMC yang dikenal sedap. Ia lalu ingin pergi ke sana tapi tak tahu tempat restoran itu. Bagi orang yang sudah tahu mengerti betul bahwa BMC terletak di Jalan Aceh daerah Wastu Kencana.
Tapi bagi yang belum tahu? Buku ini hanya memberi petunjuk yang minimal. Indeks yang disediakan adalah jenis usaha, area map, dan database restoran. Untuk yang terakhir hanya ada pengelompokan berdasarkan daerah makanan, misalnya Sunda, Padang, Cina, Jepang, Italia, Western. Juga, pengelompokan berdasar jenis makanan seperti ayam goreng, bakso, jajanan, seafood, soto, lotek.
Lalu di mana BMC dengan menu yogurtnya? Yogurt jelas bukan makanan Sunda, Padang, atau Cina. Masuk ke database Western di situ tak ada yogurt. Lalu, kalau masuk ke area map tak ada petunjuk yang bisa menuntun pembaca dengan mudah menemukan tempat yang dimaksud.
Lemahnya indeks ini kerap terjadi dalam buku-buku yang diterbitkan di Indonesia. Sangat jarang ditampilkan indeks yang lengkap dan detail sehingga pembaca tak perlu tersesat. Sebenarnya tak ubahnya sebuah peta, indeks adalah pembimbing yang membawa pembaca untuk menelusuri pokok-pokok bahasan dalam suatu buku. Jika pembaca tak cukup punya waktu untuk membaca keseluruhan buku, atau hanya memerlukan subyek bahasan tertentu, indeks amat membantu dalam menemukan apa yang ia butuhkan. Daftar isi kerap kali lebih luas cakupannya, sementara indeks langsung menunjuk titik fokus tertentu.
Dari indeksnya, seorang pembaca dapat mengetahui apakah sebuah buku cukup komprehensif atau tidak. Dan, lebih dari persoalan teknis, indeks sesungguhnya cerminan ketelatenan, kesungguhan, serta kecintaan mereka yang terlibat dalam penerbitan sebuah buku.
1 Comment »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Leave a comment
Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
Valid XHTML and CSS. ^Top^
Hi, this is a comment.
To delete a comment, just log in and view the post's comments. There you will have the option to edit or delete them.
Comment by Mr WordPress — November 30, 2007 #