Garmen Korea, Hongkong, dan Cina Serbu Mangga Dua

December 20, 2007 on 9:55 pm | In Lain-Lain |

Garmen Korea, Hongkong, dan Cina Serbu Mangga Dua

“BARANG Korea, Cina, Hongkong silakan pilih,” teriak para pedagang pakaian di Pasar Pagi Mangga Dua dan ITC Mangga Dua pada beberapa pengunjung yang menjejali pasar itu.

Para pedagang itu tidak sedang bercanda, sebab hampir semua toko, baik yang menjual secara grosir maupun eceran, memang dipenuhi pakaian bermerek Korea, Hongkong, Taiwan, dan Cina lengkap dengan aksara Korea dan Cina. Pakaian-pakaian itu digantung tersendiri dan diberi tulisan produk impor dengan tulisan berwarna menyolok.

Sejumlah pedagang yang ditemui mengatakan, sekitar 75 persen pakaian yang dijual di pasar itu bermerek Korea, Hongkong, dan Cina. Beberapa toko pakaian, bahkan hanya mau menjual produk dengan merek ketiga negara itu, mulai dari kaus kaki, pakaian dalam, baju anak-anak, baju untuk remaja putri, hingga pakaian pesta.

“Pakaian produksi Indonesia cuma jadi pelengkap saja. Toko saya cuma menjual beberapa potong pakaian produk lokal,” ujar Meta penjaga sebuah toko pakaian di ITC Mangga Dua.

Para pedagang lebih senang menjual pakaian bermerek impor, sebab pembelinya lebih banyak dibandingkan produk dengan merek lokal. Yeti, penjaga toko pakaian menceritakan, dalam sehari rata-rata bisa menjual 100 potong pakaian Cina, Hongkong, dan Korea dengan nilai puluhan juta. Sedangkan, pakaian lokal hanya terjual belasan potong saja. “Kalau mereknya bukan dari luar negeri pengunjung malas beli,” ujarnya.

Pakaian bermerek Korea dan Hongkong disukai pembeli karena kualitasnya bagus, kendati harganya mahal. Sepotong celana katun halus dijual dengan bandrol harga antara Rp 100.000 hingga Rp 300.000 ribu. Sedang baju pesta bisa mencapai Rp 800.000 per potong.

Pakaian bermerek Cina disukai pembeli, karena harganya murah. Tentunya karena harga murah kualitas pun masih di bawah produk pakaian dari Korea. Sepotong kaus oblong dengan motif abstrak di bagian depan produksi Cina ditawarkan dengan harga antara Rp 50.000 hingga Rp 70.000. Bahkan, beberapa toko menjual kemeja dan celana panjang bermerek huruf Cina dengan harga antara Rp 20.000 hingga Rp 40.000 untuk barang stok lama.

Para pedagang mengaku, mereka menjual produk bermerek Korea, Hongkong, dan Cina sejak empat tahun yang lalu. Sebagian besar dari para pedagang itu melakukan transaksi langsung dengan para grosir di tempat asal barang tersebut diproduksi, yakni dari Korea, Hongkong, dan Cina. Barang yang mereka impor langsung itu khususnya adalah barang atau pakaian untuk keperluan pesta. Namun, untuk komoditas lain atau pakaian nonpesta, dibeli langsung dari distributor pakaian dan importir pakaian yang berada di Pasar Pagi.

Menurut Taslim, pemilik toko di ITC Mangga Dua, sebelum kerusuhan pada tahun 1998, pedagang Mangga Dua lebih banyak menjual produk lokal dibanding produk Cina dan Korea.

“Setelah kerusuhan, pasokan barang dari pabrik garmen di Indonesia berkurang. Akibatnya, pedagang mencari barang ke Korea dan Cina. Sekarang, kita sudah punya jaringan dagang ke dua negara itu sehingga pasokan barang dari kedua negara itu, kini lebih lancar,” kata Taslim yang mengaku enggan menjual pakaian lokal, karena pasokan barangnya sering tersendat dan pasarnya pun kurang kuat.

***

SEJUMLAH pedagang mengatakan, sebenarnya tidak semua pakaian bermerek Korea, Hongkong, dan Cina yang beredar di Mangga Dua diimpor langsung dari ketiga negara itu. Herman, karyawan sebuah pabrik garmen di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, yang memasok pakaian ke pusat perbelanjaan itu mengatakan, sebagian besar pakaian bermerek impor itu adalah buatan pabrik garmen di Indonesia yang dimiliki orang Korea, Hongkong, dan Cina.

Pabrik tersebut mengekspor sebagian produknya ke luar negeri, sebagian lagi dilempar ke Mangga Dua dengan merek dari ketiga negara itu. “Karena pabrik itu milik orang Korea, Cina, dan Hongkong, pakaian yang dijual di sini juga pakai label dari ketiga negara itu.

Pabrik tempat saya bekerja juga melakukan itu,” ujarnya.

Cerita itu dibenarkan oleh Agus, bekas pedagang pakaian. Menurutnya, pakaian bermerek impor yang beredar di Mangga Dua kebanyakan dibuat di Tangerang, Bogor, dan Bekasi. Sebagian pabrik di sana memang mengimpor kain dari Cina, Hongkong, dan India. Namun, mereka menjahitnya di Indonesia.

Seharusnya pabrik itu mengekspor seluruh hasil produksinya ke luar negeri. Tidak boleh sedikit pun dari hasil produksi tersebut yang dijual ke pasar dalam negeri. Larangan ini diberlakukan karena pabrik tersebut telah memperoleh fasilitas pembebasan bea masuk untuk impor bahan baku, seperti tekstil. Namun toh larangan itu nampaknya tidak berlaku, komoditas berbahan baku impor tersebut tetap saja dijual ke pusat-pusat perbelanjaan seperti Mangga Dua. “Ini sudah terjadi dua-tiga tahun yang lalu,” ujar Agus.

Di luar itu, ada pula pakaian berlabel impor yang asli buatan konveksi dan pabrik garmen di Indonesia. Konveksi dan pabrik garmen seperti itu biasanya memesan label merek-merek impor di Pasar Pagi Mangga Dua dan Pasar Pagi Lama.

Toko-toko di kedua pasar grosir itu menjual label-label dari berbagai merek terkenal mulai dari Reebok, Versace, Nevada, hingga merek-merek tak terkenal dengan huruf-huruf Cina dan Korea.

“Pokoknya, kalau ada desainnya mau bikin label made in Korea, Hongkong, Cina, atau negara manapun bisa,” ujar Budi, penjaga toko.

Budi mengakui, banyak konveksi yang memproduksi “pakaian impor” memesan label-label luar negeri dari tokonya. Ketika ditanya apakah dia tidak takut dituduh memalsukan merek, dia menjawab, “Ah, enggak apa-apa. Banyak kok toko di sini yang menjual merek impor.”

Label merek impor terbuat dari kain tebal dijual dengan harga Rp 400 hingga Rp 1.700 per lusin. Pedagang hanya melayani pemesanan sedikitnya untuk 1.000 lusin.

Ada pula label harga terbuat dari kertas dan katun bertuliskan made in dan price yang biasanya dibubuhkan pada pakaian baru. Label jenis ini pun bisa dipesan dengan harga sesuai dengan kebutuhan desain dari logo tersebut dan digantung dengan desain.

Begitulah, yang disebut pakaian bermerek Korea, Cina, dan Hongkong beragam jumlahnya. Ada yang memang diimpor langsung dari ketiga negara itu, ada yang diproduksi pabrik garmen milik orang Korea, Cina, dan Hongkong di Indonesia. Namun ada pula yang dibuat pabrik garmen kecil yang membeli labelnya di Pasar Pagi. Anda mau pilih yang mana, terserah pada kekuatan kantung? Kalau mau bagus, tentu yang memiliki merek terkenal dan berbahan baku impor. Kalau mau sedikit murah, risikonya sedikit lebih enak dan tidak begitu bergengsi. Semuanya tergantung pesanan. (T06)

No Comments yet »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

bekaajajaj

Powered by WordPress with Pool theme design by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS. ^Top^